Kamis, 24 Maret 2016

Efek Penggunaan Internet Terhadap Komunitas Virtual yang Akan Menggeser Komunitas Organik


Berbicara mengenai pembahasan dalam Chapter 4 tentang  Perspective on Internet Use: Access, Involvement an Interaction dalam buku Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consequences of ITCs karangan Leah A. Lievrouw, dalam Chapter ini berfokus pada perspektif penggunaan internet dalam hal akses serta keterlibatan interaksi yang terjadi di dalamnya. Seiring dengan peningkatan akses di Amerika, hal tersebut justru memicu banyak perubahan sosial. Adopsi yang cepat ini membawa serta cara-cara baru untuk mencari dan mendistribusikan informasi, berkomunikasi dengan orang lain, masyarakat serta menghasilkan jual beli barang, produk budaya dan jasa, yang secara alami menimbulkan berbagai macam masalah politik dan budaya yang baru. Bab ini meninjau penelitian yang relevan pada isu-isu utama - akses, sipil, politik, keterlibatan masyarakat, interaksi sosial dan bentuk-bentuk ekspresi - dengan mengelompokkan argumen dan hasil ke dalam bentuk perspektif pesimis dan perspektif optimis.
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai efek penggunaan internet terhadap komunitas virtual yang akan menggeser komunitas organik. Banyak yang berpendapat bahwa cyberspace tidak bisa menjadi sumber komunitas yang nyata dan dapat mengurangi arti penting komunitas di dunia nyata (Beniger, 1988; Gergen, 1991; Kiesler et al., 1984; Stoll, 1995; Turkle, 1996).
Perkembangan teknologi ditandai dengan adanya new media dan komunitas. New media dan komunitas atau masyarakat saling berkaitan erat. New media sendiri memiliki karakteristik yaitu terdapat konten yang di digitalisasi dan bersifat interaktif ( McQuail ). Contoh : komentar pada jejaring sosial facebook terhadap status seseorang.  Digitalisasi disini berarti bahwa isi dari satu medium dapat ditukarkan dengan medium yang lain ( Negroponte ). Medium tersebut contohnya hard copy dalam media bisa diubah menjadi sebuah soft copy dan bisa berlaku sebaliknya.
Perkembangan new media dan komunitas sendiri terbagi menjadi tiga gelombang yang pertama yaitu pada masa awal adanya penelitian media penelitian tersebut lebih terfokus kepada media, komunitas dan yang paling menjadi fokus adalah identitas seseorang. Identitas disini maksudnya adalah media bukan hanya berfungsi sebagai penyebar informasi tetapi juga sebagai alat menentukan dan mengubah identitas seseorang. Misalnya cosmopolitan (mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas)  dan lokalitas. Kemudian perkembangan media dilanjutkan gelombang kedua dimulai dari zaman munculnya TV sekitar tahu pada akhir tahun 1960 dan awal 1970-an yang memunculkan ‘media komunitas’. Gelombang terakhir perkembangan new media pada masa sekarang ditandai dengan munculnya  Komunitas virtual atau cyber society.
Komunitas virtual adalah suatu bentuk komunikasi yang dilakukan individu ataupun khalayak menggunakan media yang disebut teknologi dan komunikasi virtual ini  dicetuskan oleh Rheingnold. Komunitas virtual biasanya terbentuk dari adanya minat, tujuan dan kepentingan yang sama dari sebagian besar orang, contohnya: facebook, twitter, blogger, situs game online dan lain-lain. selain komunitas virtual terdapat juga komunitas organik beda yang mencolok yaitu jika di komunitas virtual seseorang tidak menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya melainkan lebih menunjukan minat yang dimiliki seseorang dalam komunitas. Dalam komunitas virtual seseorang dapat memalsukan identitas dirinya serta dapat merubah perilaku sesuai dengan yang diingikannya sehingga kita sulit untuk mengetahui karakter yang sesungguhnya ( sifat tidak alami). Contohnya, seseorang dalam kehidupan sehari-harinya atau berada dalam komunitas organik, dia lebih sering berdiam diri atau belum bisa mengekspresikan dirinya kepada orang lain, tetapi ketika dia berada diruang komunitas virtual atau dunia maya dia lebih aktif dalam mengekspresikan dirinya tanpa ada yang menghamabat dirinya untuk melakukan apapun atau tidak sesuai dengan aslinya dalam dunia nyata atau komunitas organik.
Komunitas virtual ini sebenarnya mempunyai beberapa manfaat yang baik untuk para penggunanya. Misalnya saja pada contoh kasus yang sudah diterangkan bahwa seseorang yang berada di dalam komunitas virtual dengan mudah dia bisa mengekspresikan dirinya atau dia bisa terbuka tentang dirinya atau tidak malu untuk mengungkapkan siapa dirinya. Selain itu dengan adanya komunitas virtual atau interenet, kita bisa lebih mempererat silahturahmi kita dengan kerabat yang jauh,contohnya kita bisa berkomunikasi melalui fitur yang ada di internet seperti facebook, yahoo, skype, twitter dan banyak lagi dengan mudah dan instan tanpa membuang-buang waktu yang lama. Bukan itu saja, komunitas virtual juga dijadikan sebagai informasi yang cepat. Contohnya saja ada berita-berita terkini yang terjadi di negara sendiri maupun terjadi di dunia, biasanya informasi tersebut bisa tersebar luas secara cepat melalui komunitas virtual ini.  Kemudian, dengan komunitas virtual kita bisa dengan mudah mencari bahan-bahan yang ingi kita pelajri dengan mudah dan cepat. Dan kita juga bisa berbisnis melalui media internet ini atau komunitas virtual, contohnya seperti online shop yang hanya dengan mengupload gambar atau foto barang yang ingin dijual jika ada yang sesuai dengan permintaan pasar maka barang tersebut bisa terjual dengan cepat, dan ini sangat efektif buat orang – orang yang sibuk,  atau tidak mempunyai waktu untuk berbelanja.
Sedangkan dalam komunitas organik orang-orangnya dicirikan oleh ikatan yang kuat di antara anggota mereka. Ikatan yang kuat ini terjadi karena mereka selalu bertatap muka dengan intens di dunia nyata, sehingga mereka lebih bisa mengenali karakteristik masing-masing individu dalam proses komunikasinya, sehingga mereka mampu menjalin hubungan yang kuat.
Terlepas dari penjelasan sebelumnya tentang perkembangan teknologi dan kaitan antara media dan komunitas pada dasarnya teknologi diciptakan untuk mempermudah setiap kegiatan manusia. Teknologi lahir dari pemikiran manusia yang berusaha untuk mempermudah kegiatan-kegiatannya yang kemudian diterapkan dalam kehidupan. Tetapi justru yang terjadi saat ini teknologi dapat juga merugikan manusia. Segala perkembangan yang ada di dunia ini tentu memiliki dampak, begitu juga dengan kehadiran teknologi (media) yang tentu saja memberikan berbagai aspek yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Adanya teknologi (media) pasti selalu membawa implikasi baik dampak positif maupun negatif. Dampak negatif inilah yang perlu perhatian lebih karena dapat merusak suatu tatanan penting.
Dampak negatif tersebut diantaranya yaitu teknologi baru ditakutkan akan dijadikan sebagai alat potensial untuk propaganda politik, televisi dan film, apalagi, diduga mampu merusak tatanan masyarakat, deformasi pikiran muda dan merendahkan warisan budaya.
Schement membedakan dua elemen dalam perspektif pesimisme, yaitu hubungan primer dan sekunder. Dalam komunitas primer atau yang biasa disebut komunitas organik masyarakat saling mengenal satu sama lain dan dapat berinteraksi dengan media apapun. Sedangkan, pada komunitas sekunder atau yang biasa dikenal komunitas virtual, masyarakat yang terlibat dalam komunitas tersebut belum tentu saling kenal atau bahkan belum perah bertemu langsung.
John Seely Brown mengatakan rasa tanggung jawab dalam komunitas virtual dinilai kurang, ini terjadi karena minimnya hubungan primer antar anggota sehingga dapat menyebabkan tindakan-tindakan ceroboh yang tidak bertanggung jawab, bahkan menimbulkan perilaku anti-sosial (1995: 12).
Dari segi perspektif optimis banyak pihak yang berargumen bahwa keterlibatan masyarakat di dunia dunia maya dapat membentuk alternatif masyarakat yang senilai harga dan gunanya dengan masyarakat yang secara jasmani kita ketahui keberadaannya—komunitas organik (Rheingold, 1993). Stone (1991) sendiri menganggap manusia mungkin menggunakan komunitas di dunia maya untuk menghindari paksaan dan ketidakadilan di kehidupan nyata yang tanpa media. Daripada dilihat sebagai manusia yang tidak memiliki kelompok, komunitas ini menghindarinya dengan membentuk suatu bentuk interaksi person-to-person daripada ikut-ikutan menggunakan interaksi door-to-door.
Sebagian besar manusia sekarang sudah memiliki alat pengakses internet yang dapat dibawa ke mana pun baik dalam bentuk tablet ataupun smartphone. Dikehidupan sehari-hari tampak community involvement dari perspektif pesimistislah yang mendominasi. Kita dapat melihat bagaimana ketika kita pergi ke suatu tempat misalnya rumah makan, orang-orang lebih memilih sibuk mengakses internet padahal di tempat yang sama ada teman mereka yang lebih dekat. Atau bahkan dengan kita sadari ataupun tanpa kita sadari kita juga merupakan salah satu orang yang ternyata lebih aktif di cyberspace (dunia maya) daripada dunia nyata.

Jadi kita harus sebisa mungkin menggunakan komunitas virtual ini ketika kita memang harus menggunakannya, jangan sampai manfaat positif dari komunitas virtual ini bisa berubah menjadi dampak negatif bagi pengguna komunitas virtual yang dapat menyebabkan menghilangnya komunitas organik. Dan kita jadikan saja komunitas virtual ini menjadi ajang atau sarana untuk saling bertukar informasi dan kita juga harus berhati-hati tentang data diri kita yang ada di internet, karena bisa saja hal tersebut disalahgunakan oleh tangan-tangan jail. Apalagi sekarang sudah banyak berita-berita tentang kejahatan yang berada di dunia maya. Jadi kita harus tetap memaksimalkan bertemu dengan orang lain selagi kita masih mampu untuk bertemu. Agar komunitas organik sendiri masih tetap bisa untuk dipertahankan.



Referensi: 
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consequences of ICTs. Sage Publication Ltd.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Assignment Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang