Berbicara mengenai pembahasan dalam Chapter 4
tentang Perspective on Internet Use: Access, Involvement an Interaction dalam
buku Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consequences of ITCs
karangan Leah A. Lievrouw, dalam Chapter ini berfokus pada perspektif
penggunaan internet dalam hal akses serta keterlibatan interaksi yang terjadi
di dalamnya. Seiring dengan peningkatan akses di Amerika, hal tersebut justru
memicu banyak perubahan sosial. Adopsi yang cepat ini membawa serta cara-cara
baru untuk mencari dan mendistribusikan informasi, berkomunikasi dengan orang
lain, masyarakat serta menghasilkan jual beli barang, produk budaya dan jasa,
yang secara alami menimbulkan berbagai macam masalah politik dan budaya yang
baru. Bab ini meninjau penelitian yang relevan pada isu-isu utama - akses,
sipil, politik, keterlibatan masyarakat, interaksi sosial dan bentuk-bentuk
ekspresi - dengan mengelompokkan argumen dan hasil ke dalam bentuk perspektif
pesimis dan perspektif optimis.
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai
efek penggunaan internet terhadap komunitas virtual yang akan menggeser
komunitas organik. Banyak yang berpendapat bahwa cyberspace tidak bisa menjadi sumber komunitas yang nyata dan dapat
mengurangi arti penting komunitas di dunia nyata (Beniger, 1988; Gergen, 1991;
Kiesler et al., 1984; Stoll, 1995; Turkle, 1996).
Perkembangan teknologi ditandai dengan adanya new
media dan komunitas. New media dan komunitas atau masyarakat saling berkaitan
erat. New media sendiri memiliki karakteristik yaitu terdapat konten yang di
digitalisasi dan bersifat interaktif ( McQuail ). Contoh : komentar pada
jejaring sosial facebook terhadap status seseorang. Digitalisasi disini berarti bahwa isi dari
satu medium dapat ditukarkan dengan medium yang lain ( Negroponte ). Medium
tersebut contohnya hard copy dalam media bisa diubah menjadi sebuah soft copy
dan bisa berlaku sebaliknya.
Perkembangan new media dan komunitas sendiri terbagi
menjadi tiga gelombang yang pertama yaitu pada masa awal adanya penelitian
media penelitian tersebut lebih terfokus kepada media, komunitas dan yang
paling menjadi fokus adalah identitas seseorang. Identitas disini maksudnya
adalah media bukan hanya berfungsi sebagai penyebar informasi tetapi juga
sebagai alat menentukan dan mengubah identitas seseorang. Misalnya cosmopolitan
(mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas)
dan lokalitas. Kemudian perkembangan media dilanjutkan gelombang kedua dimulai
dari zaman munculnya TV sekitar tahu pada akhir tahun 1960 dan awal 1970-an
yang memunculkan ‘media komunitas’. Gelombang terakhir perkembangan new media
pada masa sekarang ditandai dengan munculnya
Komunitas virtual atau cyber society.
Komunitas virtual adalah suatu bentuk komunikasi
yang dilakukan individu ataupun khalayak menggunakan media yang disebut
teknologi dan komunikasi virtual ini
dicetuskan oleh Rheingnold. Komunitas virtual biasanya terbentuk dari
adanya minat, tujuan dan kepentingan yang sama dari sebagian besar orang,
contohnya: facebook, twitter, blogger, situs game online dan lain-lain. selain
komunitas virtual terdapat juga komunitas organik beda yang mencolok yaitu jika
di komunitas virtual seseorang tidak menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya
melainkan lebih menunjukan minat yang dimiliki seseorang dalam komunitas. Dalam
komunitas virtual seseorang dapat memalsukan identitas dirinya serta dapat
merubah perilaku sesuai dengan yang diingikannya sehingga kita sulit untuk
mengetahui karakter yang sesungguhnya ( sifat tidak alami). Contohnya,
seseorang dalam kehidupan sehari-harinya atau berada dalam komunitas organik,
dia lebih sering berdiam diri atau belum bisa mengekspresikan dirinya kepada
orang lain, tetapi ketika dia berada diruang komunitas virtual atau dunia maya
dia lebih aktif dalam mengekspresikan dirinya tanpa ada yang menghamabat
dirinya untuk melakukan apapun atau tidak sesuai dengan aslinya dalam dunia
nyata atau komunitas organik.
Komunitas virtual ini sebenarnya mempunyai beberapa
manfaat yang baik untuk para penggunanya. Misalnya saja pada contoh kasus yang
sudah diterangkan bahwa seseorang yang berada di dalam komunitas virtual dengan
mudah dia bisa mengekspresikan dirinya atau dia bisa terbuka tentang dirinya
atau tidak malu untuk mengungkapkan siapa dirinya. Selain itu dengan adanya
komunitas virtual atau interenet, kita bisa lebih mempererat silahturahmi kita
dengan kerabat yang jauh,contohnya kita bisa berkomunikasi melalui fitur yang
ada di internet seperti facebook, yahoo, skype, twitter dan banyak lagi dengan
mudah dan instan tanpa membuang-buang waktu yang lama. Bukan itu saja,
komunitas virtual juga dijadikan sebagai informasi yang cepat. Contohnya saja
ada berita-berita terkini yang terjadi di negara sendiri maupun terjadi di
dunia, biasanya informasi tersebut bisa tersebar luas secara cepat melalui
komunitas virtual ini. Kemudian, dengan
komunitas virtual kita bisa dengan mudah mencari bahan-bahan yang ingi kita
pelajri dengan mudah dan cepat. Dan kita juga bisa berbisnis melalui media
internet ini atau komunitas virtual, contohnya seperti online shop yang hanya
dengan mengupload gambar atau foto barang yang ingin dijual jika ada yang
sesuai dengan permintaan pasar maka barang tersebut bisa terjual dengan cepat,
dan ini sangat efektif buat orang – orang yang sibuk, atau tidak mempunyai waktu untuk berbelanja.
Sedangkan dalam komunitas organik orang-orangnya
dicirikan oleh ikatan yang kuat di antara anggota mereka. Ikatan yang kuat ini
terjadi karena mereka selalu bertatap muka dengan intens di dunia nyata, sehingga
mereka lebih bisa mengenali karakteristik masing-masing individu dalam proses
komunikasinya, sehingga mereka mampu menjalin hubungan yang kuat.
Terlepas dari penjelasan sebelumnya tentang
perkembangan teknologi dan kaitan antara media dan komunitas pada dasarnya
teknologi diciptakan untuk mempermudah setiap kegiatan manusia. Teknologi lahir
dari pemikiran manusia yang berusaha untuk mempermudah kegiatan-kegiatannya
yang kemudian diterapkan dalam kehidupan. Tetapi justru yang terjadi saat ini
teknologi dapat juga merugikan manusia. Segala perkembangan yang ada di dunia
ini tentu memiliki dampak, begitu juga dengan kehadiran teknologi (media) yang
tentu saja memberikan berbagai aspek yang berpengaruh dalam kehidupan
masyarakat sehari-hari. Adanya teknologi (media) pasti selalu membawa implikasi
baik dampak positif maupun negatif. Dampak negatif inilah yang perlu perhatian
lebih karena dapat merusak suatu tatanan penting.
Dampak negatif tersebut diantaranya yaitu teknologi
baru ditakutkan akan dijadikan sebagai alat potensial untuk propaganda politik,
televisi dan film, apalagi, diduga mampu merusak tatanan masyarakat, deformasi
pikiran muda dan merendahkan warisan budaya.
Schement membedakan dua elemen dalam perspektif
pesimisme, yaitu hubungan primer dan sekunder. Dalam komunitas primer atau yang
biasa disebut komunitas organik masyarakat saling mengenal satu sama lain dan
dapat berinteraksi dengan media apapun. Sedangkan, pada komunitas sekunder atau
yang biasa dikenal komunitas virtual, masyarakat yang terlibat dalam komunitas
tersebut belum tentu saling kenal atau bahkan belum perah bertemu langsung.
John Seely Brown mengatakan rasa tanggung jawab
dalam komunitas virtual dinilai kurang, ini terjadi karena minimnya hubungan
primer antar anggota sehingga dapat menyebabkan tindakan-tindakan ceroboh yang
tidak bertanggung jawab, bahkan menimbulkan perilaku anti-sosial (1995: 12).
Dari segi perspektif optimis banyak pihak yang
berargumen bahwa keterlibatan masyarakat di dunia dunia maya dapat membentuk
alternatif masyarakat yang senilai harga dan gunanya dengan masyarakat yang
secara jasmani kita ketahui keberadaannya—komunitas organik (Rheingold, 1993).
Stone (1991) sendiri menganggap manusia mungkin menggunakan komunitas di dunia
maya untuk menghindari paksaan dan ketidakadilan di kehidupan nyata yang tanpa
media. Daripada dilihat sebagai manusia yang tidak memiliki kelompok, komunitas
ini menghindarinya dengan membentuk suatu bentuk interaksi person-to-person
daripada ikut-ikutan menggunakan interaksi door-to-door.
Sebagian besar manusia sekarang sudah memiliki alat
pengakses internet yang dapat dibawa ke mana pun baik dalam bentuk tablet
ataupun smartphone. Dikehidupan sehari-hari tampak community involvement dari perspektif pesimistislah yang
mendominasi. Kita dapat melihat bagaimana ketika kita pergi ke suatu tempat
misalnya rumah makan, orang-orang lebih memilih sibuk mengakses internet
padahal di tempat yang sama ada teman mereka yang lebih dekat. Atau bahkan
dengan kita sadari ataupun tanpa kita sadari kita juga merupakan salah satu
orang yang ternyata lebih aktif di cyberspace
(dunia maya) daripada dunia nyata.
Jadi kita harus sebisa mungkin menggunakan komunitas
virtual ini ketika kita memang harus menggunakannya, jangan sampai manfaat
positif dari komunitas virtual ini bisa berubah menjadi dampak negatif bagi
pengguna komunitas virtual yang dapat menyebabkan menghilangnya komunitas
organik. Dan kita jadikan saja komunitas virtual ini menjadi ajang atau sarana
untuk saling bertukar informasi dan kita juga harus berhati-hati tentang data
diri kita yang ada di internet, karena bisa saja hal tersebut disalahgunakan
oleh tangan-tangan jail. Apalagi sekarang sudah banyak berita-berita tentang
kejahatan yang berada di dunia maya. Jadi kita harus tetap memaksimalkan bertemu
dengan orang lain selagi kita masih mampu untuk bertemu. Agar komunitas organik
sendiri masih tetap bisa untuk dipertahankan.
Referensi:
Lievrouw,
Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media : Social Shaping
and Social Consequences of ICTs. Sage Publication Ltd.
0 komentar:
Posting Komentar