Children and New
Media berfokus pada
penggunaan media baru oleh anak-anak. Anak-anak merasakan manfaat dengan adanya
media baru terutama pada permainan komputer dan budaya online, sekaligus
menjadi orang yang paling berisiko terkena dampak perkembangan media baru. Bab
ini melihat penggunaan media baru oleh anak-anak ketika memiliki waktu luang,
di dalam rumah, dan dalam kelompok sebaya dengan pertimbangan sosial yang
beragam pada berbagai kelompok anak-anak, serta pertimbangan edukasi dalam
penggunaan media baru oleh orang tua dan anak di rumah.
Tema ini penting untuk dibahas dalam kajian
teknologi komunikasi di Indonesia karena anak-anak pada masa kini memiliki
kecakapan yang baik dalam menggunakan teknologi bahkan melebihi orang tuanya.
Norton Online Family Report 2010 mengungkapkan, 96% anak-anak Indonesia
merasakan pengalaman negatif ketika online. Sementara masih terdapat
kesenjangan antara persespsi orang tua dengan kegiatan dan perilaku online
anak-anak sebenarnya. Akibatnya adalah anak-anak yang online tanpa didampingi
orang tuanya akan terpapar konten-konten tidak layak yang beredar di media
baru. Dengan mempelajari chapter ini kita dapat mengetahui manfaat media baru
dalam konteks penggunaan oleh anak-anak serta implikasi media baru bagi
pengalaman anak-anak. Media baru merupakan sebuah terminologi untuk menjelaskan
konvergensi antara teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi serta
terhubung ke dalam jaringan. Istilah New
Media baru muncul pada akhir abad 20 yang dipakai untuk menyebut sebuah
media baru yang menggabungkan media-media konvensional dengan Internet. Dan tak
dapat dipungkiri lagi New Media membawa dampak bagi kehidupan sosial
masyarakat, entah itu positif atau negatif. Pada kesempatan kali ini saya akan
menjelaskan mengenai hilangnya masa kecil anak-anak bersama teman-temannya
karena pengaruh dari new media.
Seiring dengan mudahnya mendapatkan piranti dalam
menikmati media baru, membuat semua orang berlomba untuk memilikinya. Banyak
dari mereka yang digunakan untuk kebutuhan yang menunjang kegiatan pekerjaan
mereka. Misalnya saja pegawai sebuah instansi yang membutuhkan gadget canggih nan berkelas untuk
digunakannya mengerjakan tugas kantor secara mobile dimana saja dan kapan saja secara mudah, bahkan mereka dapat
dengan mudah saling berbagi dan menyelesaikan tugas bersama dimana saja. Atau
juga mahasiswa yang membutuhkan gadget sebagai sarana berkomunikasi dengan
rekan satu kelompoknya untuk saling mengingatkan dalam mengerjakan tugas rumah.
Rupanya bukan hanya kalangan dewasa saja yang
menggunakan piranti canggih ini, Banyak sekali orang tua yang memang sengaja
memberikan piranti ini kepada anak-anak mereka. Alasan mereka pun bermacam
namun rata-rata itu karena kesibukan mereka sehingga berpikir agar anak tidak
kesepian dirumah maka dibelikanlah piranti itu sebagai sarana bermain.
Dan ternyata sebagian besar anak-anak pun memang
menggunakan gadget tersebut untuk bersenang-senang. Terlebih kini banyak sekali
situs penyedia games dan aplikasi yang dapat diunduh secara gratis sebut saja Google Play, Apptoko, uptodown dan lain
sebagainya. Tidak jarang pula dengan akses internet yang diberikan satu paket
dengan perangkat itu memungkinkan penyalahgunaan terhadap internet begitu
besar. Belum lagi dampak secara sosial, misalnya membuat anak-anak penggila
gadget ini kurang bersosialisasi secara nyata bahkan cenderung antisosial.
Dengan berkembangya new media secara cepat ternyata hal tersebut mempengaruhi kehidupan
anak-anak pada zaman sekarang, anal-anak zaman sekarang seperti kehilangan masa
kecil yang seharusnya mereka dapatkan dibandingkan hanya menghabiskan waktu
bermain dengan gadget yang
dimilkinya. Hilangnya masa kecil anak-anak zaman sekarang dapat dilihat dengan
membandingkan cara bermain anak kecil jaman sekarang dengan anak kecil tahun 90-an.
Dan faktanya sekarang, anak-anak kecil itu sudah mengerti dengan hal-hal berbau
masalah cinta atau biasa disebut pacaran. Ada beberapa faktor yang menyebabkan
anak-anak sekarang itu pada titik kehilangan masa-masanya. Pertama, disebabkan
karena acara-acara penayangan film/tv yang non edukatif. Dan penayangan
tersebut ditayangkan saat jam-jam yang mudah untuk ditonton oleh anak-anak.
Yang kedua, banyaknya lagu-lagu tentang percintaan yang beredar luas, dan juga
bermunculnya boyband/girlband yang
masih dibawah umur yang mana mereka membawakan lagu-lagu tentang percintaan.
Dan yang terakhir adalah kemajuan teknologi yang semakin pesat, hal ini dapat
dilihat dari gadget yang mereka miliki seperti handphone, internet, permainan
atau tablet-tablet touch yang menawarkan aplikasi terdepan dengan harga murah.
Sehingga banyak anak kecil zaman sekarang yang sudah memegang handphone penuh
untuk dirinya. Hal ini tentu sangat berbeda dengan anak-anak kecil pada tahun
90an. Yang mana disetiap hari liburnya terutama hari minggu itu sudah jadwal
film kartun disetiap channel.
Penayangan kartun tersebut juga sampai siang hari jam 12.00 dari pagi jam 05.00
WIB. Akan tetapi pada masa kini film-film tersebut bagaikan hilang ditelan
bumi. Sudah jarang sekali channel tv
yang menyediakan film-film kartun. Namun kenyataannya sekarang film-film kartun
tersebut berubah menjadi acara-acara musik orang dewasa. Dan didalam acara
musik itu pun sudah pastinya berisi lagu-lagu dewasa yang berunsur dengan cinta.
Saat ini banyak dijumpai anak-anak kecil yang sudah mulai menyanyikan lagu yang
tidak pantasnya mereka nyanyikan. Apalagi banyak lagu sekarang yang mengandung
makna kata-kata yang tidak sesuai dengan umurnya. Dan sudah banyak sekali anak-anak
SD yang tidak hapal dengan lirik lagu anak-anak malah mereka lebih hapal dengan
lagu-lagu cinta. Apalagi sudah banyaknya media social seperti facebook,
twitter, dll. Dan ditambahnya handphone yang sekarang banyak anak-anak yang
sudah memegang paten handphone dari sang orang tua. Yang makin mempermudah
komunikasi terhadap orang-orang yang disukainya. Makanya jangan heran dengan
anak kecil sekarang apabila dia sudah berkata pengen punya pacar, atau sudah
bilang sudah punya pacar. Ada halnya kasus bunuh diri yang dilakukan oleh siswi
kelas 6 SD di Bengkulu. Ia mencoba berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan
cara lompat dari tower tersebut hal ini dilakukannya karena cintanya ditolak
oleh orang yang disukainya. Bayangkan saja baru anak SD bisa dikata masih anak
bau kencur sudah berani mengambil tindakan seperti itu tanpa berpikir panjang
lagi. Dengan kemajuan tehnologi yang semakin pesat ini membuat anak-anak makin
kehilangan masa-masa kecilnya. Yang mana pada masa-masa itu sedang asyiknya
bermain dengan teman-teman sebayanya. Dan hal ini direbut oleh barang-barang
tehnologi semacam Blackberry, Tab,
dan Internet. Sudah jarang sekali pada jaman sekarang anak-anak yang bermain
lari-larian kesana-kemari. Bermain permainan tradisional yang sekarang sudah hampir
punah seperti, benteng, Asean, Tapak Gunung, Bola bekel, dan lain sebagainya.
Anak-anak jaman sekarang lebih suka bermain di warnet atau sekedar mengumpul
dengan teman-temannya sambil membicarakan social media. Bahkan hal ini
berdampak buruk mereka sebagai ajang memamerkan barang-barang tehnologi yang
mereka punya. Dan malah menyusahkan orang tuanya karena permintaan barang yang
sama dengan temannya. Untuk itu, para orang tua sangat berperan aktif untuk
mengawasi anak-anaknya, jangan diberikan dulu barang teknologi yang sudah
sangat canggih pada saat usianya masih dini. Karena dengan memeberikan barang
tersebut akan membuat anak semakin manja dan tidak mandiri. Lalu juga lebih
diperhatikan dengan acara-acara tv yang sering ditonton oleh sang anak. Bimbing
anak itu, beritahu hal yang benar atau tidak. Sebaiknya juga para orang tua
(suami-istri) harus lebih menjaga sikap kelakuan untuk bermanja-manja antar
istri-suami didepan anak-anak mereka. Dan sangat tolong diperhatikan tentang
aqidahnya, akhlaknya selama ini. Apakah ada pergeseran. Kalau ada, adakan
evaluasi, berikan pendekatan prefentif kepada anak. Jadilah sahabat mereka.
Berikan pelayanan, bukan pukulan! Cinta dan kasih sayang adalah harapan mereka,
karena cinta dari orang tua, maka ia akan lebih terjaga. Menanamkan aqidah dari
sejak dini, akhlak nabawiyah, adalah pondasi pokok untuk anak-anak.
Referrensi: Lievrouw,
Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media : Social Shaping
and Social Consequences of ICTs. Sage Publication Ltd.
0 komentar:
Posting Komentar