Jumat, 01 April 2016

Hilangnya Masa Kecil Anak-anak Zaman Sekarang

Children and New Media berfokus pada penggunaan media baru oleh anak-anak. Anak-anak merasakan manfaat dengan adanya media baru terutama pada permainan komputer dan budaya online, sekaligus menjadi orang yang paling berisiko terkena dampak perkembangan media baru. Bab ini melihat penggunaan media baru oleh anak-anak ketika memiliki waktu luang, di dalam rumah, dan dalam kelompok sebaya dengan pertimbangan sosial yang beragam pada berbagai kelompok anak-anak, serta pertimbangan edukasi dalam penggunaan media baru oleh orang tua dan anak di rumah.
Tema ini penting untuk dibahas dalam kajian teknologi komunikasi di Indonesia karena anak-anak pada masa kini memiliki kecakapan yang baik dalam menggunakan teknologi bahkan melebihi orang tuanya. Norton Online Family Report 2010 mengungkapkan, 96% anak-anak Indonesia merasakan pengalaman negatif ketika online. Sementara masih terdapat kesenjangan antara persespsi orang tua dengan kegiatan dan perilaku online anak-anak sebenarnya. Akibatnya adalah anak-anak yang online tanpa didampingi orang tuanya akan terpapar konten-konten tidak layak yang beredar di media baru. Dengan mempelajari chapter ini kita dapat mengetahui manfaat media baru dalam konteks penggunaan oleh anak-anak serta implikasi media baru bagi pengalaman anak-anak. Media baru merupakan sebuah terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi serta terhubung ke dalam jaringan. Istilah New Media baru muncul pada akhir abad 20 yang dipakai untuk menyebut sebuah media baru yang menggabungkan media-media konvensional dengan Internet. Dan tak dapat dipungkiri lagi New Media membawa dampak bagi kehidupan sosial masyarakat, entah itu positif atau negatif. Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan mengenai hilangnya masa kecil anak-anak bersama teman-temannya karena pengaruh dari new media.
Seiring dengan mudahnya mendapatkan piranti dalam menikmati media baru, membuat semua orang berlomba untuk memilikinya. Banyak dari mereka yang digunakan untuk kebutuhan yang menunjang kegiatan pekerjaan mereka. Misalnya saja pegawai sebuah instansi yang membutuhkan gadget canggih nan berkelas untuk digunakannya mengerjakan tugas kantor secara mobile dimana saja dan kapan saja secara mudah, bahkan mereka dapat dengan mudah saling berbagi dan menyelesaikan tugas bersama dimana saja. Atau juga mahasiswa yang membutuhkan gadget sebagai sarana berkomunikasi dengan rekan satu kelompoknya untuk saling mengingatkan dalam mengerjakan tugas rumah.
Rupanya bukan hanya kalangan dewasa saja yang menggunakan piranti canggih ini, Banyak sekali orang tua yang memang sengaja memberikan piranti ini kepada anak-anak mereka. Alasan mereka pun bermacam namun rata-rata itu karena kesibukan mereka sehingga berpikir agar anak tidak kesepian dirumah maka dibelikanlah piranti itu sebagai sarana bermain.
Dan ternyata sebagian besar anak-anak pun memang menggunakan gadget tersebut untuk bersenang-senang. Terlebih kini banyak sekali situs penyedia games dan aplikasi yang dapat diunduh secara gratis sebut saja Google Play, Apptoko, uptodown dan lain sebagainya. Tidak jarang pula dengan akses internet yang diberikan satu paket dengan perangkat itu memungkinkan penyalahgunaan terhadap internet begitu besar. Belum lagi dampak secara sosial, misalnya membuat anak-anak penggila gadget ini kurang bersosialisasi secara nyata bahkan cenderung antisosial.

Dengan berkembangya new media secara cepat ternyata hal tersebut mempengaruhi kehidupan anak-anak pada zaman sekarang, anal-anak zaman sekarang seperti kehilangan masa kecil yang seharusnya mereka dapatkan dibandingkan hanya menghabiskan waktu bermain dengan gadget yang dimilkinya. Hilangnya masa kecil anak-anak zaman sekarang dapat dilihat dengan membandingkan cara bermain anak kecil jaman sekarang dengan anak kecil tahun 90-an. Dan faktanya sekarang, anak-anak kecil itu sudah mengerti dengan hal-hal berbau masalah cinta atau biasa disebut pacaran. Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak sekarang itu pada titik kehilangan masa-masanya. Pertama, disebabkan karena acara-acara penayangan film/tv yang non edukatif. Dan penayangan tersebut ditayangkan saat jam-jam yang mudah untuk ditonton oleh anak-anak. Yang kedua, banyaknya lagu-lagu tentang percintaan yang beredar luas, dan juga bermunculnya boyband/girlband yang masih dibawah umur yang mana mereka membawakan lagu-lagu tentang percintaan. Dan yang terakhir adalah kemajuan teknologi yang semakin pesat, hal ini dapat dilihat dari gadget yang mereka miliki seperti handphone, internet, permainan atau tablet-tablet touch yang menawarkan aplikasi terdepan dengan harga murah. Sehingga banyak anak kecil zaman sekarang yang sudah memegang handphone penuh untuk dirinya. Hal ini tentu sangat berbeda dengan anak-anak kecil pada tahun 90an. Yang mana disetiap hari liburnya terutama hari minggu itu sudah jadwal film kartun disetiap channel. Penayangan kartun tersebut juga sampai siang hari jam 12.00 dari pagi jam 05.00 WIB. Akan tetapi pada masa kini film-film tersebut bagaikan hilang ditelan bumi. Sudah jarang sekali channel tv yang menyediakan film-film kartun. Namun kenyataannya sekarang film-film kartun tersebut berubah menjadi acara-acara musik orang dewasa. Dan didalam acara musik itu pun sudah pastinya berisi lagu-lagu dewasa yang berunsur dengan cinta. Saat ini banyak dijumpai anak-anak kecil yang sudah mulai menyanyikan lagu yang tidak pantasnya mereka nyanyikan. Apalagi banyak lagu sekarang yang mengandung makna kata-kata yang tidak sesuai dengan umurnya. Dan sudah banyak sekali anak-anak SD yang tidak hapal dengan lirik lagu anak-anak malah mereka lebih hapal dengan lagu-lagu cinta. Apalagi sudah banyaknya media social seperti facebook, twitter, dll. Dan ditambahnya handphone yang sekarang banyak anak-anak yang sudah memegang paten handphone dari sang orang tua. Yang makin mempermudah komunikasi terhadap orang-orang yang disukainya. Makanya jangan heran dengan anak kecil sekarang apabila dia sudah berkata pengen punya pacar, atau sudah bilang sudah punya pacar. Ada halnya kasus bunuh diri yang dilakukan oleh siswi kelas 6 SD di Bengkulu. Ia mencoba berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan cara lompat dari tower tersebut hal ini dilakukannya karena cintanya ditolak oleh orang yang disukainya. Bayangkan saja baru anak SD bisa dikata masih anak bau kencur sudah berani mengambil tindakan seperti itu tanpa berpikir panjang lagi. Dengan kemajuan tehnologi yang semakin pesat ini membuat anak-anak makin kehilangan masa-masa kecilnya. Yang mana pada masa-masa itu sedang asyiknya bermain dengan teman-teman sebayanya. Dan hal ini direbut oleh barang-barang tehnologi semacam Blackberry, Tab, dan Internet. Sudah jarang sekali pada jaman sekarang anak-anak yang bermain lari-larian kesana-kemari. Bermain permainan tradisional yang sekarang sudah hampir punah seperti, benteng, Asean, Tapak Gunung, Bola bekel, dan lain sebagainya. Anak-anak jaman sekarang lebih suka bermain di warnet atau sekedar mengumpul dengan teman-temannya sambil membicarakan social media. Bahkan hal ini berdampak buruk mereka sebagai ajang memamerkan barang-barang tehnologi yang mereka punya. Dan malah menyusahkan orang tuanya karena permintaan barang yang sama dengan temannya. Untuk itu, para orang tua sangat berperan aktif untuk mengawasi anak-anaknya, jangan diberikan dulu barang teknologi yang sudah sangat canggih pada saat usianya masih dini. Karena dengan memeberikan barang tersebut akan membuat anak semakin manja dan tidak mandiri. Lalu juga lebih diperhatikan dengan acara-acara tv yang sering ditonton oleh sang anak. Bimbing anak itu, beritahu hal yang benar atau tidak. Sebaiknya juga para orang tua (suami-istri) harus lebih menjaga sikap kelakuan untuk bermanja-manja antar istri-suami didepan anak-anak mereka. Dan sangat tolong diperhatikan tentang aqidahnya, akhlaknya selama ini. Apakah ada pergeseran. Kalau ada, adakan evaluasi, berikan pendekatan prefentif kepada anak. Jadilah sahabat mereka. Berikan pelayanan, bukan pukulan! Cinta dan kasih sayang adalah harapan mereka, karena cinta dari orang tua, maka ia akan lebih terjaga. Menanamkan aqidah dari sejak dini, akhlak nabawiyah, adalah pondasi pokok untuk anak-anak.

Referrensi: Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consequences of ICTs. Sage Publication Ltd.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Assignment Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang